Assalam mualaikum semoga tulisan ini bisa bermanfaat saudaraku
Al qur’an, sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad, merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang mau mempelajarinya. Al qur’an ibarat lautan yang semakin diselami akan semakin banyak keindahan dan keunikan yang akan kita temukan. Semakin dalam kita menyelami al qur’an, maka makin banyak mutiara yang akan kita temukan didalamnya.
Salah satu keunikan al qur’an adalah ia (al qur’an) akan berbicara kepada pembacanya sesuai dengan kemampuan si pembaca itu sendiri. Dari Taman kanak-kanak sampai keperguruan tinggi atau bahkan seorang professor - pun membaca dan menggunakan al qur’an yang sama, tetapi pemahaman anak tk, anak sekolah dasar dan sekolah menengah dan seterusnya sampai tingkatan profesor, pasti akan berbeda ketika memaknai Suatu ayat atau sebuah surat dari al qur’an, tergantung pada kapasitas dan kemampuan sipembacanya.
Salah satu yang dapat kita tangkap dari al qur’an adalah keindahan perumpamaan yang digunakan al qur’an untuk menggambarkan sesuatu. Salah satu contoh kecil adalah pengabadian tiga nama hewan kecil dan satu mamalia besar sebagai nama surat dalam al qur’an, yaitu Surat An Nahl (Surat 16), Surat An Naml (27), Al ankabut (29) dan Al Fiil (105). Ada apa dibalik pengabadian nama-nama hewan tersebut diatas, misalnya bukan harimau,singa atau lainnya?
An Nahl (lebah)
An Nahl (lebah) adalah sebuah tamsil bagi peribadi muslim yang paripurna. Keunikan lebah dapat kita golongkan sebagai berikut:
- Lebah hanya makan sari pati bunga, artinya adalah bahwa lebah merupakan hewan yang selektif dalam hal memilih makanan. Selapar apapun lebah, mereka tidak makan selain sari pati bunga. Bukankan ini sebuah ibrah bagi kita, bahwa seorang muslim adalah orang yang mampu memilah dan memilih makanan yang baik dan sehat. Bukan hanya dari kadar halal dan haram makanan tersebut, juga dari sumber mana makanan itu diperoleh. Itu pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari hewan kecil yang bernama lebah.
- Sudah merupakan sunatullah bahwa masukan yang baik, akan menghasilkan keluara yang baik juga, pun demikian dengan lebah, sari pati yang mereka konsumsi, menghasilkan madu, yang kita tahu manis rasanya, banyak manfaatnya. Pribadi muslim yang paripurna adalah pribadi yang hanya makan yang baik sehingga ia hanya mengeluarkan kata-kata dan tingkah laku yang baik pula. Seorang muslim yang terjaga dari makanan dan minuman haram, akan terpelihara juga dari kata-kata dan perbuatan yang sia-sia, apalagi kata-kata dan perbuatan yang propokatif. Makanan adalah sumber energi untuk melakukan berbagai aktivitas, jika energi positif dari hasil makanan yang baik lagi halal, maka akan melahirkan gerak lisan dan perbuatan yang insya allah baik pula.
- Hal ketiga yang dapat kita ambil pelajaran dari lebah adalah dimanapun lebah hinggap, tidak ada putik bunga yang rusak, bahkan sebaliknya, ia berfungsi juga bagi perkawinan putik sari dan serbuk sari sebagai proses kelangsungan hidup bunga itu sendiri. Pun demikian halnya dengan pribadi muslim yang paripurna, dimanapun bumi diinjak, disitu langit dijunjung.
Seorang muslim bukanlan seorang pembuat onar yang suka menghancurkan tatanan sosial kemasyarakatan dimana ia tinggal, sebaliknya, ia, seorang muslim yang ideal adalah motor bagi gerak maju masyarakat disekelilingnya, dan lebih dari itu, ia juga mampu menjadi pelopor dan motivator bagi perkembangan dan pertumbuhan masyarakatnya..
- Keempat, lihat sarang lebah, sarang itu berbentuk hexagonal (segi enam), yang dalam pengetahuan modern diketahui bahwa segi enam (hexagonal) mampu menampung volume yang lebih banyak, dibandingkan dengan kubus, segitiga atau lingkaran, dari jumlah material yang sama.
Artinya, lebah adalah jenis hewan yang selain selektif, juga cerdas, efektif dan efisien, mereka mampu membuat sarang dengan bahan yang sedikit tapi mampu menampung volume yang lebih besar.
Allah sangat benci kepada para pemboros, bahkan ia, para pemboros digolongkan sebagai “ihwannya syaitan”. Untuk itu pribadi muslim adalah pribadi yang mampu berlaku dan bertindak secara efektif dan efisien. Tidak kikir dan juga tidak berlebihan dalam menafkahkan harta dan waktunya.
- Lebah juga sekolompok hewan yang akan menyerang siapapun yang menggangu kenyamanan dan keamanan mereka. Mereka tidak pernah iseng mengganggu, tapi ketika saatnya tiba harus mempertahankan dirinya, mereka akan sontak serentak bangkit membela kehormatanya.
Seorang muslim adalah pribadi yang tidak akan pernah mencari gara-gara apalagi mencari musuh, tapi pribadi muslim yang benar adalah pribadi yang sanggup membela dan mempertahankan kehormatan diri, agama dan bangsanya.
An Naml (semut)
An Naml (semut), sebagaimana kita tahu, hanyalah hewan kecil yang hampir tiap hari kita jumpai dengan mudah, dirumah, dikantor, dikebun dan hampir disemua tempat kita bisa jumpai hewan kecil ini. Satu hal yang umum kita kenal dari hewan semut adalah mereka senantiasa saling “menyapa” ketika mereka berpapasan, entah apa maksud dari aktivitas itu, namun yang jelas, sebagian orang memaknai aktivitas itu sebagai tanda solidaritas dari kalangan semut. Kisah tentang semut, ditemukan dalam al qur’an ketika al qur’an mengisahkan perjalanan pasukan nabi Sulaiman as, yang ketika melewati suatu tempat, nabi Sulaiman, yang konon dikaruniai Allah kemampuan untuk memahami bahasa binatang, mendengar percakapan sekelompk semut yang hampir terinjak oleh pasukannya.
Lepas dari karakter semut tersebut diatas dan bagaimana kisahnya dalam al qur’an, ada satu lagi karakter semut yang sangat jarang kita bicarakan. Coba perhatikan sekali lagi, bagaimana semut-semut yang hilir mudik membawa makanan kedalam sarangnya, bukan jenis makanannya yang penting, tapi jumlah makanan yang mereka bawa, sekali lagi perhatikan, mereka membawa makanan yang dua,tiga kali dan bahkan sampai 5 kali lebih besar dari ukuran tubuhnya. Kita bisa bayangkan, jika makanan itu mereka makan, pasti tidak akan habis untuk satu sampai dua kali mereka makan, bahkan mungkin sampai akhir masa hidupnya. Tapi tetap saja semut keluar dari sarangnya untuk mengumpulkan makanan yang tidak akan mereka nikmati. Adakah kita seperti semut? Pergi keluar rumah sejak matahari belum lagi sempurna menyinari bumi, dan pulang ketika matahari sudah kembali keperaduan atau bahkan larut malam, hanya untuk mencari sepiring, dua piring nasi yang kita makan. Kita, serakus apapun pasti tidak akan mampu menghabiskan lima piring nasi sekaligus, lalu mengapa kita sedemikian ngotot untuk mengumpulkan harta? Untuk warisan? Belum tentu juga harta yang kita kumpulkan akan menjadi manfaat bagi anak cucu kita, dan bahkan mungkin menjadi sumber malapetaka akibat perebutan warisan, jadi,,,,,masihkah kita akan menjadi semut?
Al Ankabut (laba-laba)
Al Ankabut (laba-laba), jenis serangga yang unik dan sangat menarik kita perhatikan. Pertama bagaimana cara laba-laba mencari makan? Ia memasang perangkap dan jaring untuk menjerat mangsanya, kemudian membiarkan mangsanya menggelepar kehabisan nafas dalam jeratannya, lalu ia akan memakannya. Sungguh sebuah usaha yang sangat “kejam” dan bahkan, sang pejantan yang telah membuahinyapun tak lepas dari ancaman jerat dan kekejamannya. Adakah kita seperti laba-laba? Menjerat mangsa kita, melumpuhkannya lalu membantainya?
Al Fill (Gajah)
Al Fill (Gajah) adalah binatang mamalia terbesar yang hidup didarat, yang kekuatan dan berat tubuhnya mungkin setara dengan dua puluh kekuatan dan berat tubuh orang dewasa. Tapi sering kali kita lihat, gajah, binatang yang perkasa itu menjadi sedemikian patuh hanya oleh seorang pawang. Ia hanya menurut ketika disuruh ini dan itu, bahkan ketika kepala disakitipun,ia tidak berontak. Mengapa?
Karena gajah tidak pernah mendongak melihat langit, dia hanya tertunduk..maksudnya gajah adalah simbol dari siapapun yang mempunyai potensi, tapi ia sendiri tidak tahu potensi yang ada pada dirinya. Ia sudah terpola dan terbelenggu oleh kondisi yang sedemikian rupa diciptakan oleh sang pawang.
Ada beberapa belenggu yang kerap membelit potensi kita, tapi kita sendiri tidak menyadarinya,
- Belenggu masa lalu, Ketika kecil, biasanya gajah-gajah di ikat kakinya dan tidak diberi makan, sehingga ia lemas. Ketika gajah kecil itu mencoba melepaskan ikatan dikakinya, ia selalu gagal, sehingga perasaan gagal inilah yang terus terbawa sampai ia dewasa. Ketika kekuatannya telah bertambah besarpun, ia enggan mencoba melepaskan ikatan tali, karena ia trauma dengan percobaan yang gagal dimasa kecilnya.
Setiap orang mempunyai masa lalu, ada yang masa lalunya indah, dan ada pula yang kurang menyenangkan. Keindahan masa lalu tidak berarti apa-apa jika kita tidak menjadikannya sebagai modal kita, pun dengan masa lalu yang kurang baik, kita tidak bisa memenjarakan diri kita dengan masa lalu, karena sedetikpun masa lalu bisa kita ubah, maka hiduplah untuk hari ini, kemudian tataplah kedepan, kemana kita akan menuju dan apa yang ingin kita capai, bukan terus-menerus terkungkung oleh bayangan masa lalu.
- Belenggu usia, “Akh saya mah sudah tua” atau “Saya masih terlalu muda untuk melakukan hal itu”. Itu ungkapan-ungkapan pembunuh kreativitas yang hendaknya kita buang-jauh-jauh. Tidak ada batasan usia yang tepat untuk melakukan sesuatu yang besar. Ada banyak contoh bahwa usia bukanlah halangan seseorang untuk mencapai prestasi puncak. Ada orang justru mencapai prestasi gemilang ketika usianya sudah senja, pun ada pula orang yang mencapai keemasaan pada usia yang relatif masih muda. Usia bukanlah halangan bagi kita untuk berprestasi.
- Belenggu pikiran – Perbedaan nyata antara orang sukses dan orang gagal adalah terletak pada bagaimana cara ia berpikir dan memandang hidup. Ada orang yang memiliki “kepasrahan semu” sehingga belum apa-apa ia telah menyerah sebelum ia melakukan apapun. Ia terlalu sibuk berdalih untuk mencari kambing hitam bagi kegagalanya dalam memenej pola pikirnya.
Demikian sekelumit kisah dan hikmah dibalik pencantuman nama-nama hewan yang terdapat dalam al qur’an – dari berbagai sumber
Senin, 28 Juni 2010
Minggu, 06 Juni 2010
Panduan Dasar Analisis Statistik
Seringkali seorang yang akan melakukan analisis data statistik kebingungan, analisis apa yang akan dipakai ? Apakah regresi, korelasi, manova, nonparametrik, cluster, dlsb ? …Sekarang anda tidak perlu bingung lagi, karena berikut ini kami sajikan panduan dasar untuk pemilihan analisis statistik. Dengan mengikuti beberapa langkah sederhana, voila :) anda dapat menentukan analisis statistik yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan anda. Untuk memulai, jawablah pertanyaan / pernyataan di bawah ini :
1. Apakah ingin melakukan pengujian hipotesis (menguji perbedaan antara dua peubah) ? Jika Ya maka lanjutkan ke Panduan Dasar Pengujian Hipotesis nomor 12. Jika Tidak maka lanjutkan ke nomor 2
2. Apakah akan dicari hubungan antara peubah yang akan dianalisis ? Jika Tidak maka : Gunakan statistik deskriptif berupa nilai (mean, median, modus, kuartil, ragam, simpangan baku, koefisien keragaman) maupun berupa grafik (poligon, histogram, boxplot, diagram batang dan daun). Jika Ya maka lanjutkan ke nomor 3.
3. Apakah dalam satu analisis akan diuji hubungan antara lebih dari 2 peubah ? Jika Tidak maka lanjutkan ke nomor 4, Jika Ya maka lanjutkan ke nomor 5
4. Apa skala peubah yang akan diuji ? Jika Metrik maka : Gunakan analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier sederhana. Jika Nonmetrik maka : Gunakan Analisis Nonparametrik.
5. Tipe hubungan apakah yang akan diteliti ? Jika ketergantungan satu arah maka lanjutkan ke nomor 6, jika ketergantungan dua arah (saling ketergantungan) maka lanjutkan ke nomor 10
6. Berapa banyak peubah yang diduga ? Jika banyak hubungan antara peubah bebas dan peubah terikat maka : Gunakan SEM (Structural Equation Modeling), jika beberapa peubah terikat dalam satu hubungan maka lanjutkan ke nomor 7, jika satu peubah terikat dalam satu hubungan maka lanjutkan ke nomor 9
7. Apa skala pengukuran peubah terikatnya ? Jika skalanya non metrik maka : Gunakan Analisis Korelasi Kanonik dengan peubah dummy, jika skalanya metrik maka lanjutkan ke nomor 8
8. Apa skala pengukuran peubah bebasnya ? Jika skalanya metrik maka : Gunakan Analisis Korelasi Kanonik, jika skalanya nonmetrik gunakan MANOVA (Multivariate Analysis of Variance).
9. Apa skala pengukuran peubah terikatnya ? Jika skalanya non metrik maka : Gunakan Analisis Diskriminan Berganda, Model Peluang Linier; jika skalanya metrik maka : Gunakan Regresi Berganda, Analisis Conjoint.
10. Bagaimana struktur dari hubungannya ? Jika struktur hubungannya antara peubah maka : Gunakan Analisis Faktor, jika struktur hubungannya antara kasus/responden maka : Gunakan Analisis Cluster, jika struktur hubungannya antara objek maka lanjutkan ke nomor 11
11. Bagaimana atribut dari objek tersebut diukur ? Jika nonmetrik maka : Gunakan Analisis Korespondensi, jika metrik dan atau nonmetrik maka : Gunakan Multidimensional Scaling.
-----------------------------------------------------------------------------------
12. Panduan Dasar Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis, dalam ilmu statistik, dilakukan untuk menguji kebenaran suatu pernyataan secara statistik . Umumnya pernyataan statistik berkaitan dengan satu peubah, dua peubah, atau lebih dari dua peubah dan melibatkan suatu parameter (dibahas di pendahuluan). Parameter yang akan diujikan, biasanya ialah nilai tengah/rata-rata/mean, proporsi, atau ragam.
Untuk menentukan statistik hitung yang sesuai (dibahas di pengujian hipotesis), jawablah pertanyaan/pernyataan di bawah ini :
1. Apa parameter yang akan diuji ? Jika rata-rata maka lanjutkan ke nomor 2, jika proporsi maka lanjutkan ke nomor 3, jika ragam maka : Gunakan statistik hitung F
2. Berapa jumlah parameter yang akan diujikan ? Jika hanya satu rata-rata atau dua rata-rata maka : Gunakan t hitung atau z hitung, jika lebih dari dua rata-rata maka : Gunakan statistik hitung F (ANOVA)
3. Berapa jumlah parameter yang akan diujikan ? Jika hanya satu atau dua proporsi maka : Gunakan z hitung, jika lebih dari dua proporsi maka : Gunakan statistik hitung kai-kuadrat
Sumber : lintasilmu.com
1. Apakah ingin melakukan pengujian hipotesis (menguji perbedaan antara dua peubah) ? Jika Ya maka lanjutkan ke Panduan Dasar Pengujian Hipotesis nomor 12. Jika Tidak maka lanjutkan ke nomor 2
2. Apakah akan dicari hubungan antara peubah yang akan dianalisis ? Jika Tidak maka : Gunakan statistik deskriptif berupa nilai (mean, median, modus, kuartil, ragam, simpangan baku, koefisien keragaman) maupun berupa grafik (poligon, histogram, boxplot, diagram batang dan daun). Jika Ya maka lanjutkan ke nomor 3.
3. Apakah dalam satu analisis akan diuji hubungan antara lebih dari 2 peubah ? Jika Tidak maka lanjutkan ke nomor 4, Jika Ya maka lanjutkan ke nomor 5
4. Apa skala peubah yang akan diuji ? Jika Metrik maka : Gunakan analisis korelasi sederhana, analisis regresi linier sederhana. Jika Nonmetrik maka : Gunakan Analisis Nonparametrik.
5. Tipe hubungan apakah yang akan diteliti ? Jika ketergantungan satu arah maka lanjutkan ke nomor 6, jika ketergantungan dua arah (saling ketergantungan) maka lanjutkan ke nomor 10
6. Berapa banyak peubah yang diduga ? Jika banyak hubungan antara peubah bebas dan peubah terikat maka : Gunakan SEM (Structural Equation Modeling), jika beberapa peubah terikat dalam satu hubungan maka lanjutkan ke nomor 7, jika satu peubah terikat dalam satu hubungan maka lanjutkan ke nomor 9
7. Apa skala pengukuran peubah terikatnya ? Jika skalanya non metrik maka : Gunakan Analisis Korelasi Kanonik dengan peubah dummy, jika skalanya metrik maka lanjutkan ke nomor 8
8. Apa skala pengukuran peubah bebasnya ? Jika skalanya metrik maka : Gunakan Analisis Korelasi Kanonik, jika skalanya nonmetrik gunakan MANOVA (Multivariate Analysis of Variance).
9. Apa skala pengukuran peubah terikatnya ? Jika skalanya non metrik maka : Gunakan Analisis Diskriminan Berganda, Model Peluang Linier; jika skalanya metrik maka : Gunakan Regresi Berganda, Analisis Conjoint.
10. Bagaimana struktur dari hubungannya ? Jika struktur hubungannya antara peubah maka : Gunakan Analisis Faktor, jika struktur hubungannya antara kasus/responden maka : Gunakan Analisis Cluster, jika struktur hubungannya antara objek maka lanjutkan ke nomor 11
11. Bagaimana atribut dari objek tersebut diukur ? Jika nonmetrik maka : Gunakan Analisis Korespondensi, jika metrik dan atau nonmetrik maka : Gunakan Multidimensional Scaling.
-----------------------------------------------------------------------------------
12. Panduan Dasar Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis, dalam ilmu statistik, dilakukan untuk menguji kebenaran suatu pernyataan secara statistik . Umumnya pernyataan statistik berkaitan dengan satu peubah, dua peubah, atau lebih dari dua peubah dan melibatkan suatu parameter (dibahas di pendahuluan). Parameter yang akan diujikan, biasanya ialah nilai tengah/rata-rata/mean, proporsi, atau ragam.
Untuk menentukan statistik hitung yang sesuai (dibahas di pengujian hipotesis), jawablah pertanyaan/pernyataan di bawah ini :
1. Apa parameter yang akan diuji ? Jika rata-rata maka lanjutkan ke nomor 2, jika proporsi maka lanjutkan ke nomor 3, jika ragam maka : Gunakan statistik hitung F
2. Berapa jumlah parameter yang akan diujikan ? Jika hanya satu rata-rata atau dua rata-rata maka : Gunakan t hitung atau z hitung, jika lebih dari dua rata-rata maka : Gunakan statistik hitung F (ANOVA)
3. Berapa jumlah parameter yang akan diujikan ? Jika hanya satu atau dua proporsi maka : Gunakan z hitung, jika lebih dari dua proporsi maka : Gunakan statistik hitung kai-kuadrat
Sumber : lintasilmu.com
| Reaksi: |
Minggu, 16 Mei 2010
Seputar Ujian Nasional

Masalah Ujian Nasional (UN) tiap tahun selalau ramai dibicarakan, mulai dari persiapan siswa dengan berbagai bimbingan belajar, orang tua degan menyiapkan materi untuk mendukung para putranya, pihak sekolah dengan berbagai penganyaan dan uji coba UN, pemerintah dengan memberikan materi pokok UN, masyarakat dengan katentuan/syarat pelulusan yang sangat memberatkan.
Masyarakat luas mengharapkan UN tidak dilaksanakan karena merugikan (jika ada siswa yang tidak lulus, termasuk merugikan pihak sekolah karena banyak yang tidak lulus). Saya sudah tidak asing dengan Ujian Nasional karena istilah itu sudah saya rasakan sejak tahun 1990-an ketika membuka lembaga pendidikan keterampian (kurususan) sampai sekarang.
Suatu lembaga “kursus” dikatakan baik adalah lembaga kursus banyak meluluskan warga belajarnya pada ujian nasional, bukan saja banyak warga belajar yang mendaftar. Apabila suatu lembaga “kursus” tiap tahun mengikuti Ujian Nasional (biasanya satu tahun 2 atau 3 kali UN) maka lembaga kursus tersebut dapat diakreditasi, dan yang lulus akreditasi minial B maka akan mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Selain lembaganya diakreditasi para pengajarnya pun harus punya sertifikat Sumber Belajar tingkat Nasional bahkan sampai punya sertifikat penguji tingkar nasional.
Jadi saya tidak asing lagi dengan akreditasi di lembaga pendidikan formal, bahkan dengan sertifikasi guru. Yang jadi pertanyaan saya adalah “Mengapa lembaga pendidikan fomal baru sekarang diakreditasi, mengapa gurunya disertifikasi sekarang, mengapa istilah Ujian Nasional baru juga sekarang? Mengapa istilah-istilag itu diambil dari pendidikan nonformal?”
Tentang Ujian Nasional saya tetap berpendapat harus tetap dilaksanakan, hanya dalam “rumus” pelulusan tidak harus seragam, tiap sekolah bisa memililih kriteria pelulusan yang tepat. Kriteria “rumus” pelulusan tersebut ditentukan oleh pemerintah (hal ini pernah dilakukan ketika Ebtanas terkahir diberlalukan).
| Reaksi: |
Wajah Pendidikan Kita

Dewasa ini banyak sekali keluhan-keluhan yang muncul didunia pendidikan kita, dimana tidak bisa terakomodirnya aspirasi intelektual masyarakat yag sudah kian semakin kritis, dimulai dari akan dibawa kemanakah wajah pendidikan kita? Sebuah pertanyaan yang sangat mendesak untuk dijawab, belum lagi ditambah dengan masalah yang ada pada SDM kita, perlukah adanya up-grading?? fenomena yang sama skali tidak bisa kita remehkan, karena nasib bangsa ini menjadi taruhannya. samapai kapan kita akan diam saja dengan situasi yang akan membawa kita kepada keterpurukan?
pendidikan kita sedang gencar-gencarnya membicarakan tentang pembentukan karakter (character building)dimana banyak alasan yang mengatakan bahwa metode ini sangat cocok untuk wajah pendidikan kita, tapi pertanyaan yang muncul setelah itu adalah….bagaimana dengan indikator dan tata nilai penerapannya????
ternyata tidak hanya sampai disitu permasalahannya, siswa kita sekarang ini butuh role model atau panutan yang bisa dikatakan sebagai pijakan awal siswa untuk menggapai imaginasinya dalam perkembangan intelektualnya.
apakah kurikulum kita sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul??? jawabnya adalah “BELUM”, kemudian apa langkah kita selanjutnya untuk menyikapi ini, dimana pada jaman sekarang ini dibutuhkan pribadi-pribadi yang inovatif, kompetitif, dan juga mandiri, sehingga menurut saya ada baiknya kurikulum di indonesia dirubah total yang bisa memberikan kebebasan bagi para praktisi pendidikan (guru dan dosen) untuk bisa mengembangkan intelektualitasnya dan bisa memacu daya kritis siswa sehingga dengan demikian bisa tercipta kondisi intelektulitas yang kondusif, transparan, bisa dipertanggung jawabkan dan juga bisa bershabat dengan teknologi-teknologi mutakhir yang sangat sarat sekali dalam berkembangnya suatu bangsa.
| Reaksi: |
Namaku Sani Bin Husain

Nama Saya Sani Bin Husain, lahir di Kota Bontang 27 Tahun yang lalu. Ayah saya dahulunya adalah nelayan tangguh dari Sulawesi Barat dan Ibu dahulunya adalah petani yang ulet dari Jawa Timur. Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas Saya selesaikan di Kota Bontang.
Samarinda adalah Kota kedua tempatku banyak menghabiskan waktu. Sejak Tahun 2000 Saya Kuliah di Universitas Mulawarman dengan dua Jurusan yang berbeda pada Fakultas yang berbeda. Jurusan pertama adalah Agronomi Fakultas Pertanian. Dan Jurusan Ke dua adalah Kimia Analisis Fakultas Matematika dan IPA ( mulai 2001 ).
Umurku sudah semakin Tua ( hampir 3 dasawarsa ), saat ini Saya sedang mengikuti Kuliah S2 Jurusan Manajemen Pendidikan UNMUL tahun 2010 dengan modal Bodong alias nggak punya Uang. Kalau tidak dapat Beasiswa segera mungkin kuliah ini hanya enam bulan saja. Padahal cita-citaku menuntaskan S 3 di saat umurku 32 Tahun.
Inilah hidup, perjuangan kadang-kadang melelahkan. Sayangnya kita tidak boleh berhenti berjuang sampai ajal menjemput. Kalau tidak kita akan mati lebih dini sebelum kematian sesungguhnya.
| Reaksi: |
Minggu, 15 Februari 2009
Tidak melebihi kemampuan

Allah menguji setiap manusia dengan ujian yang beragam jenis. Akan tetapi, Dia tak pernah membebani seseorang melebihi apa yang ia mampu. Ini adalah janji Allah, .
Penyakit, kecelakaan, dan segala macam bentuk ujian yang dihadapi seseorang dalam kehidupan dunia, adalah dalam batasan kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Dalam beberapa peristiwa, seseorang bisa saja merasa telah melakukan segala yang memungkinkannya keluar dari masalah, namun ia tidak kunjung melihat jalan keluar. Karena lalai bahwa pasti ada kebaikan dalam peristiwa tersebut, ia memberontak dan marah. Ini adalah tanggapan tak berguna yang dihembuskan setan. .
Apa pun yang dihadapinya dalam hidup, seorang mukmin yang ikhlas harus tetap ingat bahwa ia dihadapkan pada keadaan yang di dalamnya ia dapat menetapi kebajikan dan kesabaran. Jika ia putus asa, itu hanyalah tipu daya setan. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk tidak berputus asa. .
Seseorang yang menerima dan berusaha menetapi perintah Allah tersebut mengetahui bahwa dari kebaikan akan timbul kebaikan pula. Seseorang yang putus asa akan sendirian di dunia ini dan tidak mempunyai jalan keluar. Allah mengatakan pada kita bahwa mereka yang putus asa terhadap kasih Allah adalah orang-orang yang tidak beriman. .
Dalam menetapi perintah Allah, seorang mukmin harus mencoba mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang apa yang terjadi di sekitarnya melalui perenungan. Ketika seorang mukmin menemukan kesulitan, kesulitan itu membuatnya sadar bahwa ada kebaikan di dalamnya dan ia memastikan bahwa selama cobaan itu, ia menjadi bersemangat, sabar, pemurah, setia, tekun, pengasih, dan penuh pengorbanan. Sikap sabar, bijaksana, cerdas, tenang, memaafkan, menyayangi, semuanya menunjukkan tingkatan kemuliaan seorang mukmin dan menawarkan kebahagiaan kepada manusia yang hanya didapatkan dari keimanan.
| Reaksi: |
Rizqi di tangan-Nya

Tanda pemahaman yang benar akan arti iman adalah tidak adanya kekecewaan akan apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebaliknya, jika seseorang gagal melihat kebaikan dalam setiap peristiwa yang terjadi dan terperangkap dalam ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan, kesedihan, dan ketidaksenangan, ini menunjukkan kurangnya kemurnian iman. Kebingungan ini harus segera dienyahkan dan kesenangan yang berasal dari keyakinan yang teguh harus diterima sebagai bagian hidup yang penting. .
Orang yang beriman mengetahui bahwa peristiwa yang pada awalnya terlihat tidak menyenangkan, termasuk hal-hal yang disebabkan oleh tindakannya yang salah, pada akhirnya akan bermanfaat baginya. Jika ia menyebutnya sebagai "kemalangan", "kesialan", atau "seandainya", ini hanyalah untuk menarik pelajaran dari sebuah pengalaman. Dengan kata lain, orang yang beriman mengetahui bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi.
Ia belajar dari kesalahannya dan mencari cara untuk memperbaikinya. Bagaimanapun juga, jika ia jatuh dalam kesalahan yang sama, ia ingat bahwa semuanya memiliki maksud tertentu dan mudah saja memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam kesempatan mendatang.
Bahkan jika hal yang sama terjadi puluhan kali lagi, seorang muslim harus ingat bahwa pada akhirnya peristiwa tersebut adalah untuk kebaikan
Hanya dalam kesadaran bahwa Allah menciptakan segalanya untuk tujuan yang baik sajalah hati seseorang akan menemukan kedamaian. .
Adalah sebuah keberkahan yang besar bagi orang-orang beriman bila ia memiliki pemahaman akan kenyataan ini. Seseorang yang jauh dari Islam akan menderita dalam kesengsaraan yang berkelanjutan. Ia terus-menerus hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Di sisi lain, orang beriman menyadari dan menghargai kenyataan bahwa ada tujuan-tujuan Ilahiah di balik ciptaan dan kehendak Allah.
Manusia terkadang tidak cukup sabar untuk melihat kebaikan yang ada di dalam peristiwa yang menimpa mereka. Sebaliknya, mereka menjadi lebih bernafsu dan kurang memiliki pertimbangan dalam mengejar sesuatu walaupun hal tersebut sangat bertentangan dengan kepentingan yang lebih baik. .
Seorang hamba harus berusaha melihat kebaikan dan maksud Ilahiah dalam setiap kejadian yang disodorkan Allah di depan mereka, dan bukannya memaksa untuk diperbudak oleh apa yang menurutnya menyenangkan dan tidak sabar untuk mendapatkan hal itu.
| Reaksi: |
Kebiasaan para pejuang

Kebiasaan pejuang islam adalah berikhlas diri dan berupaya menyampaikan kebaikan dan ajaran mulia yang terkandung dalam Al Qur’an. Mereka khawatir terhadap kerusakan akhlak yang terjadi di masyarakat yang jauh dari agama. Seiring dengan itu, dengan kehendak Allah mereka pun membimbing manusia ke jalan yang benar. Karena telah merasakan sendiri kenikmatan hidup secara Islami, mereka pun berharap dan berusaha agar orang lain juga mengalami hal yang sama. Selain itu, karena mengetahui neraka benar-benar ada, mereka ingin menyelamatkan semua orang darinya, dengan anjuran menjalani kehidupan yang diridhai Allah. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti besar para pejuang islam.
Inilah yang menyebabkan mereka punya keteguhan untuk mengorbankan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih sayang Allah. Mereka bahkan rela mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, siang dan malam, guna membimbing seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik. Demikian pula, mereka pun bersemangat mengeluarkan harta kekayaannya untuk tujuan yang satu ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan ajaran Allah dengan cara terbaik dan paling bijaksana.
Meski demikian, sekalipun semua upaya mereka pada akhirnya tidak mendatangkan hasil berupa turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka takkan pernah berputus asa. Sebab, kewajiban seorang mukmin hanyalah menyampaikan pesan Al Qur’an, sedangkan yang sesungguhnya memberikan hidayah kepada seseorang hanyalah Allah. Melalui Al Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw. telah melakukan berbagai upaya yang tulus dan sungguh-sungguh. Namun, segenap kerja keras yang telah beliau curahkan tetap mendapatkan ganjaran.
Di dalam Al Qur’an dinyatakan, semua nabi telah menunjukkan kebulatan tekad dan kegigihan yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Berbagai kesukaran yang mereka hadapi tak pernah mematahkan semangat mereka. Sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk mengarahkan umat ke jalan yang benar. Kerja keras penuh semangat yang dilakukan Nabi Nuh a.s., misalnya, telah digambarkan sebagai berikut:
“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka untuk beriman agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya ke mukanya dan mereka tetap mengingkari dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka untuk beriman dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku berdakwah kepada mereka lagi dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.
Sebagaimana diungkapkan di atas, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Allah dengan semangat yang tinggi untuk membukakan hati umatnya kepada jalan keselamatan dan kebahagiaan. Meskipun mereka selalu menolak, namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan keberadaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mendengarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela sikap mereka. Sebaliknya, beliau terus saja melanjutkan kewajibannya dengan keteguhan yang tiada surut. Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau adalah untuk menyelamatkan mereka dari kerusakan masyarakat yang jauh dari ajaran Allah dengan cara mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terang-terangan maupun diam-diam.
Perlu senantiasa kita ingat bahwa segenap upaya yang telah dikerahkan Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Dengan izin Allah dan kemurahan-Nya, setiap kata yang disampaikan dan setiap saat yang dicurahkan di jalan-Nya akan diberi pahala berlipat ganda.
Mereka, para pejuang da’wah itu adalah orang-orang yang beribadah, yang memuji Allah lewat rukuk dan sujud, mereka giat berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan mereka orang-orang yang paling teguh memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang seperti mereka.
| Reaksi: |
Membuang kerugian

Allah menganugrahkan kita dua masa. Pertama adalah masa lalu, dan kedua adalah masa yang akan datang. Masa lalu sesedih atau seindah apapun boleh jadi sulit kita lupakan. Masa lalu jadi berharga kalau kita dapat mengambil hikmah darinya untuk menyusun langkah-langkah dimasa datang. Masa yang akan datang adalah masa untuk mewujudkan impian dan cita-cita kita.
Baik dimasa lalu maupun dimasa yang akan datang hanya ada dua pilihan bagi kita, yaitu kita ingin menjadi golongan orang-orang yang beruntung atau kita menjadi golongan orang-orang yang merugi.
Tentu kita sangat berkeinginan menjadi golongan orang yang beruntung, bahkan kita sangat ingin menjadi bagian dari keberuntungan itu sendiri. Keinginan itu sama kuatnya dengan keinginan kita terlepas dari kerugian. .
Menurut Allah dalam surah Al Ashr ada empat cara menjadi golongan orang yang tidak mengalami kerugian.
Yang pertama adalah orang yang selalu memelihara iman di hatinya. Iman yang mampu menggerakkan diri untuk menghasilkan aktifitas dalam rangka membuktikan iman tersebut.
Kedua adalah orang yang giat beramal sholeh. Amal sholeh itu sangat penting. Karena iman tanpa amal sholeh seperti pohon yang tidak pernah berbuah.
Ketiga adalah orang yang menempatkan dirinya dalam barisan kebenaran. Menyebarkan fikroh-fikroh kebenaran sehingga terbentuk komunitas-komunitas kebenaran. Kemudian komunitas ini menghasilkan tindakan-tindakan yang benar pada level dan tahapan yang lebih tinggi.
Dan yang keempat adalah saling menasehati dan menyemangati dalam kesabaran. Sabar adalah mental yang paling tangguh untuk menghadapi ragam ujian, tugas bahkan cobaan.
Dengan kekayaan iman, amal sholeh, keberpihakan terhadap kebenaran dan mental kesabaran, maka kita akan menjadi orang yang tidak pernah merugi demi perjalanan masa.
| Reaksi: |
Cinta dan ketergantungan

Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya: harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini. .
Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya. .
Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini. .
Padahal, seharusnya kita memposisikan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya sebagai substansi paling penting bagi kita, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat. .
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah. Sekali hati ini kita persembahkan untuk dunia saja, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi. .
Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa akrab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.
Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.
Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita tidak mencintai dunia ini lebih dari mencintai penciptanya. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya.
| Reaksi: |
Pilihan keberuntungan

Bolehkah Saya menawarkan, hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. hasilnya, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga. .
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.
| Reaksi: |
Menghirup kesyukuran

Dari hasil penyelidikan ilmuan sains bahwa pada udara ditemui dalam prosentasi unsur-unsur gas yang seimbang sebagaimana yang diperlukan oleh umat manusia dan makhluk-makhluk lainnya.
Salah satu unsur gas yang sangat berpotensi bagi hidup dan kesehatan manusia adalah gas oxygen. Kebutuhan seorang manusia dalam memenuhi kesehatan memerlukan gas oxygen setiap harinya antara 18-20 %. Allah telah mengatur sedemikian rupa dengan pasti bahwa di dalam udara yang kita hirup saat ini persis dalam prosentasi antara 18-20 %. .
Untuk lebih meyakinkan diri kita, apa yang dikemukakan tadi, patutlah diketahui atau kalau ada yang telah mendalami anggaplah kita mengulang kajian lama, bahwa seorang manusia sehat dewasa dalam keadaan normal, dalam satu menit kurang lebih 20 (Dua Puluh) kali bernapas. Satu kali bernafas udara kurang lebih 2 liter udara ke dalam rongga-rongga pernapasan, ini berarti semenit akan menghirup kurang lebih 40 liter udara. Kalau sehari semalam (24 jam) kita akan mengkonsumsi 57.600 liter udara, atau dengan kata lain kita telah menggunakan gas oxygen murni (100%) sebanyak 20% dari 57.600 liter udara adalah 11.520 liter oxygen murni seharinya. Berapa besarkah nilai ekonominya? .
Saat ini umum dipasarkan satu tabung oxygen harganya Rp. 40.000 yang isinya 6000 liter yang kadar oxygen antara 97-99% berarti nilai tiap liternya adalah 40.000: 6000 adalah kurang lebih Rp. 6.600 per liter. .
Ini berarti seseorang manusia sehat cuma-cuma alias gratis telah menghabiskan gas oxygen setiap harinya dengan nilai 11.520 kali Rp. 6.600 sama dengan Rp. 760.000,- kalau sebulan nilainya menjadi Rp. 22.800.000,-.
Nah kalau kita ingin lebih mendalaminya lagi seberapa besar nikmat oxygen yang telah kita hirup selama hidup atau pada usia kita saat ini misalnya 40 tahun, 50 tahun atau 60 tahun rata-rata kita semua yang masih hidup, dalam nilai rupiah saat ini di atas 1 milyar,
Marilah kita bersama-sama meluangkan waktu merenung sejenak di tengah kesibukan mencari nafkah betapa besar karunia Allah kepada diri kita, keluarga kerabat kita, bangsa kita dan hamba Allah pada umumnya. .
Sebagaimana yang telah kita ketahui dengan nyata sisi-sisi kecil atas nikmat yang telah kita rasakan bernilai sekian besarnya apalagi dalam mengarungi hidup ini, masih akan mengenyam nikmat-nikmat lainnya berupa nikmat kelapangan rizki, nikmat berkeluarga, nikmat kebahagiaan, nikmat kepuasan hidup dan masih setumpuk nikmat lainnya yang sukar menyebutkannya satu persatu. .
Sebagai hasil renungan kita atas nikmat ini tentunya menimbulkan kesadaran dari lubuk hati yang dalam, kemudian dituangkan dalam bentuk kesyukuran, dan kesyukuran ini tidaklah punya arti sama sekali jika hanya dalam bentuk lisan semata. .
Mensyukuri karunia Allah harus berupa pengakuan hati kepada kebesaran dan keagungan Allah dalam sikap dan tindakan nyata, berupa membantu hajat hidup orang-orang yang dalam kesempitan, menghibur orang-orang yang dalam kesedihan, orang yang terkena musibah, membantu mereka yang membutuhkan pertolongan, meyantuni anak-anak yatim dan badan-badan amal lainnya. Janganlah berdalih tidak mampu sementara rizki terus mengalir masuk, penuhilah telapak tangan fakir miskin yang sedang mengulas dada tipisnya karena ketiadaan makanan hingga kelaparan berkepanjangan, ceritakanlah, kabarkanlah dan sebarkanlah kepada orang lain betapa nikmat Allah yang telah kita rasakan, ulangilah berkali-kali syukur ini kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala.
| Reaksi: |
Ilmu adalah jalan mendekat

Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan. Karena orang yang berilmu adalah cahaya bagi orang lain. Perumpamaan dari petunjuk ilmu yang aku diutus dengannya bagaikan hujan yang menimpa tanah. Sebagian di antaranya ada yang baik lagi subur yang mampu menampung air dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya lagi ada sebagian tanah keras yang mampu menahan air yang dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia untuk minuman, mengairi tanaman dan bercocok tanam. Dan sebagian menimpa tanah tandus kering yang gersang, lalu dengannya membantu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Maka demikianlah permisalan orang yang memahami dan mempelajari ilmu dalam dien Allah dan memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk kebaikan. maka dia mempelajari dan mengajarkan.
Sedangkan permisalan bagi orang yang tidak berminat menambah ilmu itu seperti tanah gersang yang tidak pernah dibasahi hujan. Maka tidak ada yang dapat tumbuh diatasnya. .
Allah akan mengangkat derajat Ahli Ilmu di dunia dan akhirat. Di dunia Allah angkat derajatnya di tengah-tengah umat manusia sesuai dengan tingkat amal yang dia tegakkan. Dan di akhirat akan Allah angkat derajat mereka di Surga sesuai dengan derajat ilmu yang telah diamalkan dan didakwahkannya. .
Orang-orang yang giat menuntut ilmu akan memiliki potensi lebih besar menerima petunjuk dari Allah. Karena apabila Allah menghendaki suatu kebaikan maka akan di beri kepahaman tentang ilmu yang di milikinya. Lalu dengan ilmu itu, Allah membuat tiap hamba memiliki kerinduan kepada-Nya. Dan dengan kerinduan seorang hamba memiliki kerinduan uantuk mendekat kepada-Nya.
| Reaksi: |
"Kalau Tidak "

Sibukkanlah diri dalam perkara-perkara besar, kalau tidak anda pun akan disibukkan dengan perkara-perkara kecil.
Sibukkanlah diri dalam perbuatan yang bermanfaat kalau tidak Anda akan di sibukkan dengan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Gunakanlah waktu Anda untuk beribadah di jalan Allah, kalau tidak waktu Anda pun suatu saat akan habis, tapi tidak untuk ibadah di jalan Allah.
Gunakanlah tenaga Anda untuk berjuang di jalan Allah, kalau tidak tenaga Anda pun suatu saat akan habis tapi tidak untuk berjuang di jalan Allah.
Infakkanlah sebagian harta Anda sebagai tabungan di akhirat kelak, kalau tidak harta anda pun suatu saat akan habis, tapi Anda tidak punya tabungan di akhirat kelak.
Matilah kita semua dalam taat kepada Allah, kalau tidak suatu saat pun kita pasti akan mati tapi tidak dalam taat pada Allah.
| Reaksi: |
Pola membangun peradaban

Sel paling kecil tapi paling penting. Apabila sel-sel yang sejenis bergabung maka dia akan membentuk jaringan. Kemudian jaringan bergabung maka akan membentuk organ. Dan pada akhirnya organ-organ yang saling mendukung bergabung maka akan membentuk sistem organ. Sistem organ kemudian saling mendukung maka terbentuklah organisme.
kalau kita pelajari dari sejarah , begitulah perumpamaan dan metode para Nabi dan Rasul dalam membangun peradaban. Pada awalnya hanya terbentuk sel – sel berupa kelompok-kelompok kecil lingkaran diskusi dan studi. Lalu kelompok-kelompok itu akan membentuk jaringan yang memliki potensi gerakan. Kemudian dari gerakan-gerakan jaringan itu akan membentuk suatu bagunan sistem sosial , bangunan sistem politik, bangunan sistem budaya dan pola-pola interaksi unit hingga komunitas. Bangunan-bangunan yang bergabung tadi lama-kelamaan akan menciptakan pranata dan sejarah. Apabila semua tahapan berjalan dengan baik dan terus menerus , maka terbentuklah peradaban.
Dengan demikian dapat kita lihat pola “membangun” itu sesungguhnya adalah alur dari hulu ke hilir . pada pangkal hulu terdapat mata air yang kecil tapi bening. Melalui kebeningan itu kemudian air mengalir melalui berbagai macam rintangan membentuk sungai dan pada akhirnya mata air tadi memberikan kontribusi terbentuknya lautan yang luas.
Membangun peradaban itu bukan pekerjaan mudah dan dapat dilakukan dengan waktu yang singkat. Sehingga dibutuhkan orang-orang yang tidak hanya cerdas tapi lebih dari itu mereka harus tangguh dan dapat mempengaruhi banyak orang. Karena ini pekerjaan orang banyak. Satu orang masih sangat lemah bila dihadapkan dengan pekerjaan besar ini.
Itulah mengapa sebelum merubah peradaban, Para Nabi dan Rasul terlebih dahulu menyampaikan fikroh-fikroh kebangkitan dari kejahiliahan . harapannya fikroh ini akan membuat mereka bergerak. Dan jangan lupa gerakan banyak orang mampu merubah sejarah, bahkan mampu merubah peradaban. .
Yang terberat dari pekerjaan membangun peradaban ini adalah konsistensi dalam ritme dan ketukan pada tiap tahapan. Sejarah banyak mencatat banyak gerakan perjuangan yang harus jatuh bangun karena memiliki ritme dan ketukan yang tidak teratur . kadangkala sebuah gerakan sangat tangguh menghadapi tantangan eksternal tapi menjadi lemah ketika menghadapi kendala internal. Itulah sebabnya mengapa cara terbaik yang sering digunakan oleh orang-orang yang ingin merusak pergerakan kebaikan adalah dengan merusak gerakan itu dari dalam. .
Salah satu dari sekian banyak cara yang efektif untuk membangun resistensi dari pembusukan gerakan dari dalam adalah menjaga kebersamaan rasa dan tingkat juga sangat mempengaruhi keberhasilan membangun kekuatan. Rasulullah memanggil para tentaranya tidak dengan pangkatnya, tapi dengan ungkapan kedekatan yaitu “sahabat”. Sehingga Rasulullah ketika itu tidak hanya mendapatkan cinta “dinas” tapi lebih dari itu Beliau juga mendapatkan cinta yang tulus. Padahal cinta itu perekat ukhuwah yang paling kuat dalam persatuan. Dan persatuan adalah awal dari kemenangan.
| Reaksi: |
Dia-lah Raja

Ketika menyaksikan sekeliling Anda di mana pun Anda kini berada, segala yang Anda saksikan pasti ada Pemiliknya. Kursi yang Anda duduki tersusun atas atom yang diciptakan oleh Pemiliknya. Bunga dalam pot tumbuh karena sinar matahari dan air yang disediakan oleh pemiliknya. Lautan yang Anda pandang dari jendela beserta segala kehidupan di dalamnya ada atas kehendak Pemiliknya. .
Pemilik semua ini dan seluruh jagat raya adalah Allah yang Maha Perkasa, Penguasa seluruh alam. Bahkan tubuh Anda berada dalam genggaman Allah yang menciptakan Anda, dan Dia tidak bergantung pada Anda. Tangan, kaki, pembuluh darah, sistem saraf, dan sel-sel Anda adalah hasil pengetahuan tak tertandingi dan kesempurnaan penciptaan oleh Pemilik Anda. Tak satu pun dari semua ini ada karena Anda memutuskan untuk merancang dan menciptakannya. Ketika pertama kali membuka mata pada dunia, Anda temukan sistem tanpa cacat dalam tubuh Anda sendiri dan di bumi yang Anda tempati, bahkan di seluruh jagat raya.
Namun Anda tak memiliki itu semua sebelumnya, dan takkan mungkin pula di masa mendatang dengan kehendak Anda sendiri. Kenyataan ini tentu saja berlaku bagi semua orang. Jika demikian halnya, maka kekuasaan atas segala sesuatu adalah milik Pencipta kita, Allah, Penguasa seluruh alam. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah manusia berterima kasih dan bersyukur kepada-Nya
| Reaksi: |
Allah Maha Mengetahui

Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. .
Allah memiliki pengetahuan tentang langit dan bumi, seluruh makhluk hidup di antara keduanya. Dia mengetahui seluruh hukum yang mengatur alam semesta, dan seluruh peristiwa yang terjadi di seluruh waktu. Sebab Allah-lah yang menciptakan mereka semua. Di samping itu, tak ada yang membatasi pengetahuan Allah. Allah mengetahui jati diri setiap manusia yang lahir atau mati. Allah mengetahui jumlah dedaunan yang berjatuhan dari setiap pohon yang ada di bumi, dan semuanya ini diketahui pada saat bersamaan. Dia mengetahui secara rinci miliaran bintang dalam miliaran galaksi di jagat raya, dan seluruh hal lain yang takkan pernah mampu kita sebutkan di sini. .
Tuhan kita mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi dan di ruang angkasa. Dia mengetahui kode-kode genetik seluruh miliaran manusia, hewan dan tumbuhan di dunia. .
Pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata milik Allah.
Satu hal sangat penting jangan pernah kita lupakan, selain dari semua yang telah kita sebutkan, Allah juga mengetahui isi hati manusia. Dia memahami apa yang terlintas dalam benak setiap manusia, dan segala sesuatu yang dikerjakannya, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.
Manusia mengira hanya mereka sendirilah yang tahu seluruh perasaan, pikiran, dan kecemasan yang mereka rasakan. Ini adalah kesalahan besar. Seperti pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu di alam semesta, Allah pun mengetahui apa yang ada di luar dalam diri manusia. Lalu masih adakah yang masih bisa kita sembunyikan.
| Reaksi: |
Berbuat adil

Orang-orang yang beriman, hendaknya menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan menghindari kebenciannya terhadap sesuatu mendorong mereka untuk berlaku tidak adil. Mereka menjadi barisan terdepan dalam menegakkan keadilan, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwa kepada Allah didasari oleh kesadaran penuh bahwa Allah Maha Mengetahui atas apa yang mereka kerjakan. .
Allah-lah yang paling adil di antara yang adil. Neraca keadilan-Nya melingkupi keseluruhan alam semesta. Dia akan menegakkan keadilan di antara para hamba-Nya, di dunia dan di akhirat. Allah, Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Melihat, mengatur seluruh alam semesta dengan kebijaksanaan dan keadilan mutlak. Seluruh amal manusia sepanjang hidupnya akan ditimbang dalam neraca Kemahaadilan Allah. Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa pelaku kejahatan takkan lolos tanpa hukuman atas dosa mereka, sebaliknya perkataan baik walau hanya sepatah akan diberi pahala.
Kebaikan dan keburukan tidaklah sama di mata Allah, dan Dia berkuasa atas keduanya dengan keadilan mutlak. Tempat di mana keadilan mutlak Allah dapat disaksikan dengan jelas adalah akhirat. Allah pasti tidak pernah lupa tentang sesuatu pun, Dia-lah yang Maha Menepati janji. Setiap manusia, tanpa kecuali, akan mendapatkan balasan di akhirat atas segala perbuatannya di dunia. Mereka yang melakukan kejahatan akan dihukum, dan mereka yang beriman kepada Allah dan beramal shaleh akan menerima pahala terbaik dari-Nya. .
Tidak ada kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya dari Allah. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.
| Reaksi: |
Rabu, 11 Februari 2009
Sukses Yang Bermutu

Menang adalah kata yang paling identik dengan sukses. Padahal kalau kita mau mengkaji lebih mendalam, tidak setiap kemenangan adalah kesuksesan. Dan tidak setiap kekalahan adalah kegagalan. Kenapa kemudian setiap penilaian kita mengenai indikasi sukses sering keliru. Boleh jadi hal itu di sebabkan alat ukur kita yang kurang tepat. Kita lebih sering melihat “hasil” sebagai nilai akhir ketimbang “proses”-nya. Padahal waktu dan tenaga yang di gunakan untuk melalui proses jauh lebih tinggi daripada waktu dan tenaga yang di gunakan untuk menikmati hasilnya. Kalau kita meminjam neraca abstrak untuk menimbang antara proses dan hasil tentu proses jauh lebih berat daripada hasil. Itulah sebabnya menurut Al Quran, Allah lebih cendrung menilai suatu perbuatan lewat proses daripada hasil. Walaupun memang harus kita akui hasil juga penting dalam suatu perbuatan. Islam menilai sukses dari aspek pekerjaan itu sesungguhnya terletak pada dua parameter. Pertama adalah ketika kita berada dalam posisi memperjuangkan kebenaran.
Dan yang kedua adalah ketika kita berada dalam posisi mencegah kemungkaran. Selama kita berada dalam kedua parameter tersebut maka kita adalah orang yang sukses, tidak perduli menang atau kalah sekalipun.
Sukses dinilai dalam takaran waktu, adalah peningkatan kwalitas diri setiap saat. Indikasinya terletak pada perubahan menuju lebih baik dari waktu ke waktu. Hanya saja kita sering berbeda pendapat mengenai hal yang menjadi titik acuan perubahan tersebut. Boleh jadi perbedaan itu timbul karena perbedaan sudut pandang dan disiplin ilmu. Tapi marilah kita coba melihat empat titik acuan perubahan yang Allah sampaikan dalam Surah Al Ashr. Yang pertama adalah peningkatan iman secara kontinyu. Kedua adalah adalah peningkatan amal sholeh yang merupakan buah dari keimanannya. Ketiga adalah memposisikan diri dalam kebenaran dan menjadi penyampai nilai-nilai kebenaran. Serta yang terakhir adalah berkomitmen meningkatkan kesabaran dan saling menyemangati dalam kesabaran. Sehingga dengan demikian, sukses menurut takaran waktu bukan diartikan kemampuan untuk hidup lebih lama, tetapi Anda baru dikatakan sukses setelah terjadi peningkatan iman, amal sholeh, memperjuangkan kebenaran dan saling menguatkan dalam kesabaran.
Sukses di tinjau dari arah orientasinya, adalah bergerak mendekati sumber tujuan penciptaan. Karena evaluasi penciptaan manusia sangat di tentukan oleh maksud awal manusia di ciptakan. Bagaimana kemudian manusia menggunakan perangkat hidup yang Allah berikan sesuai dengan misinya di dunia. Fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini adalah peralihan orientasi dari menggunakan perangkat hidup untuk mencapai tujuan, menjadi menggunakan kehidupan untuk mengejar kelengkapan perangkat. Hal ini wajar terjadi karena sifat dasar manusia yang cendrung puas dengan hal kecil asalkan di depan mata daripada hal besar tapi masih dalam janji, sekalipun janji itu pasti terjadi. Itulah mengapa dalam hal ini iman menjadi berperan sangat penting mengantarkan manusia pada orientasi tugasnya. Dan boleh jadi di situlah letak ujiannya. Sehingga dengan demikian kesuksesan bukanlah perkara mendapatkan atau tidak mendapatkan, tapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana kita menjadi semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Corak kesuksesan sangat tergantung bagaimana kita mewarnai proses dalam pencapaiannya. Dalam konteks ini warna sangat mempengaruhi “rasa” yang tercipta dari kesuksesan tersebut. Kadangkala sukses terasa hambar , dan kebanyakan di sebabkan oleh pilihan warna yang kurang sesuai. Kehidupan ini memiliki begitu banyak ragam warna. Ibadah adalah salah satu warna kehidupan yang selalu berhasil memberi rasa luar biasa terhadap kesuksesan. Itu menjadi penting karena kestabilan rasa menjamin eksistensi kesuksesan itu sendiri. Sehingga tidak berlebihan kiranya, jika kita simpulkan bahwa kesuksesan yang tidak di topang oleh ibadah yang disiplin seperti rumah mewah dan megah tapi dengan pondasi yang sangat lemah dan rapuh.
Awal mula dari kekuatan menuju sukses itu adalah mengendalikan diri. Dalam kendali maksimum sering kita merasakan akan timbul kehati-hatian yang kuat. Kehati-hatian yang kuat akan membuat kita memilih dan memilah setiap peluang. Karena tidak setiap peluang dalam hidup ini mengantarkan kita pada kesuksesan. Boleh kita simpulkan sesungguhnya sukses itu di bangun dengan semangat antisipasi. Dalam analogi sederhana seperti mengusir ayam dari dalam kamar. Pasti begitu sulit, kalaupun berhasil kitapun masih dalam kerugian. karena kamar akan berantakan di buatnya. Oleh karena itu kita harus memiliki semangat antisipasi dalam meraih sukses. Maka tutuplah kamar sebelum ayam masuk, artinya tutuplah peluang maksiat sebelum berbuat
Label:
Tsaqofah
| Reaksi: |
Sabar itu aktif
Kesabaran sesungguhnya adalah energi. Energi tidak selalu berarti kekuatan yang digunakan untuk bergerak. Boleh jadi energi yang digunakan untuk bertahan menata hati dan mengatur posisi jauh lebih besar. Mungkin itulah sebabnya mengapa para Nabi dan Rasul yang pernah di utus Allah terlebih dahulu di bentuk kesabarannya dengan berbagai ujian dan cobaan yang sangat berat di zamannya. Allah memberikan kesabaran untuk membuat mereka tangguh.Kesabaran adalah proses membentuk keiklasan walaupun di awali dengan perjuangan menahan diri dari keinginan berlebih. Kemampuan untuk membatasi diri itulah yang menjadi bibit, yang apabila disirami dan dipelihara maka suatu saat akan menghasilkan buah yang bernama kesabaran. Hanya saja merawat bibit itu tidak dilakukan hanya dalam waktu yang relatif singkat.
Karena sabar itu berat dan bertahap maka Allah meminta kita memberi kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar agar tidak menurunkan tensi kekuatan hatinya.
Sabar taat pada Allah adalah sabar tingkat paling tinggi. Mereka menyerahkan diri secara totalitas dalam lintasan kehendak-Nya. Hal itu dimulai melalui kesadaran murni dari sifat kehambaan yang melekat dalam dirinya. Walaupun untuk merasakan kesadaran murni itu terlebih dahulu seorang manusia harus berjuang memenangkan hatinya dari nafsunya. Itulah sebabnya mengapa sebagian besar ritual ibadah dalam islam berupaya meraih kemenangan itu. Kita ambil salah satu contoh, puasa adalah ibadah wajib yang dilakukan umat muslim. Pada siang hari di bulan ramadhan perut kita berteriak lapar manipestasi dari perwujudan nafsu. Tetapi hati kita yang di kuasai iman lebih memilih bertahan hingga maghrib. Ketika saat berbuka tiba maka jelaslah pemenangnya. Sehingga sukseslah latihan kesabaran hari itu. Apabila dilakukan secara kontinyu maka kesabaran itu memiliki potensi untuk menjadi permanen.
Sabar meninggalkan maksiat adalah sabar tingkat kedua. Salah satu pekerjaan besar setan adalah menghias kemaksiatan menjadi indah dan menarik. Itulah yang kadangkala membuat kesabaran bertahan menjadi lemah, karena di kalahkan oleh hiasan yang indah dan menarik, padahal isinya adalah keburukan yang nantinya berbuah penyesalan. Sabar meninggalkan maksiat bukan berhenti sejenak atau memperlambat kecepatan. Tapi lebih dari itu adalah memposisikan diri untuk berhenti kemudian berbalik arah melawan kemaksiatan itu sendiri. Malah kadang kala tingkat iman seseorang sangat tergantung sebagaimana besarnya kwalitas perlawanannya terhadap kemaksiatan. Hal itu cukup beralasan karena menurut Rasulullah orang yang mencegah kemaksiatan dengan tangannya adalah tanda keimanan yang tinggi, dengan lisan adalah tingkat berikutnya sedangkan dengan hati adalah tingkat yang paling rendah. Dengan demikian dapat kita simpulkan orang yang paling sabar adalah orang yang paling keras perlawanannya terhadap kemaksiatan.
Sabar menghadapi musibah adalah sabar tingkat paling dasar. Pada umumnya kebanyakan orang memaksa “sabar” itu selalu bersanding dengan “musibah”. Padahal sabar tidak melulu untuk musibah. Sederhananya kalau berbicara sabar maka terbayang dalam benak kita tentang musibah. Dan biasanya definisi sabar menurut sekelompok masyarakat tertentu hanya terbatas berdiam diri dan pasrah setelah terkena musibah. Padahal orang sabar bila terkena musibah adalah orang yang paling rajin mencari hikmah di balik kejadian. Kemudian dengan hikmah tadi membuat dia bekerja lebih keras dari sebelumnya. Dengan demikian maksud dari cobaan itu untuk membuat manusia memiliki derajat lebih tinggi telah berhasil. Karena indikasi pertama manusia yang mengalami kenaikan derajat di sisi Allah adalah dia bekerja lebih keras dari sebelumnya.
Dengan demikian sabar itu bukan berarti tidak berbuat. Sabar pada hakikatnya menunggu saat yang tepat untuk bertindak. Setelah tiba saatnya maka orang yang sabar akan berbuat jauh lebih baik dengan prinsip yang benar dan dengan cara yang benar.
Label:
Tsaqofah
| Reaksi: |
Langgan:
Entri (Atom)
